Mengajarkan anak bertanggung jawab atas tugas sekolah merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembangnya. Tanggung jawab tidak hanya berkaitan dengan menyelesaikan pekerjaan rumah, tetapi juga belajar mengatur waktu, memahami kewajiban, menjaga perlengkapan sekolah, dan berusaha menyelesaikan tugas tanpa selalu bergantung pada orang lain.
Namun, membangun sikap bertanggung jawab pada anak tentu membutuhkan proses. Tidak sedikit anak yang masih sering lupa mengerjakan PR, menunda tugas hingga mendekati batas waktu, atau meminta orang tua menyelesaikan tugasnya. Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu memberikan pendampingan secara bertahap tanpa mengambil alih tanggung jawab anak.
Lantas, bagaimana cara mengajarkan anak agar lebih bertanggung jawab terhadap tugas sekolah? Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan di rumah.
Tugas sekolah dapat menjadi salah satu kesempatan bagi anak untuk belajar bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Ketika anak terbiasa menyelesaikan tugas sesuai kemampuannya, ia juga dapat belajar mengenai konsekuensi, kedisiplinan, perencanaan, dan kemandirian.
Tanggung jawab yang dibangun sejak usia sekolah juga tidak hanya bermanfaat untuk menyelesaikan tugas akademik. Kebiasaan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas lain, seperti merapikan mainan, menyiapkan perlengkapan sekolah, menjaga barang pribadi, hingga menyelesaikan pekerjaan rumah sederhana.
Meski begitu, orang tua perlu membedakan antara mendampingi dan mengerjakan tugas anak. Pendampingan membantu anak memahami apa yang perlu dilakukan, sedangkan mengambil alih seluruh tugas justru dapat membuat anak semakin bergantung.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak membangun rasa tanggung jawab terhadap tugas sekolah.
Anak mungkin mengetahui bahwa ia harus mengerjakan PR, tetapi belum tentu memahami mengapa tugas tersebut penting. Oleh karena itu, orang tua dapat menjelaskan tujuan tugas dengan bahasa yang sederhana.
Misalnya, ketika anak mendapatkan latihan matematika, orang tua dapat mengatakan bahwa latihan tersebut membantu anak memahami materi yang sudah dipelajari di sekolah.
Hindari hanya mengatakan, “Pokoknya harus dikerjakan.” Sebaliknya, bantu anak memahami hubungan antara tugas dan proses belajarnya.
Dengan memahami alasannya, anak diharapkan tidak hanya menyelesaikan tugas karena takut dimarahi, tetapi mulai memahami bahwa tugas merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai pelajar.
Anak dapat mengalami kesulitan mengatur waktu jika memiliki banyak aktivitas setelah sekolah. Membuat jadwal sederhana dapat membantu anak mengetahui kapan waktunya bermain, beristirahat, dan mengerjakan tugas.
Jadwal tidak harus terlalu rumit. Orang tua dapat membuat rutinitas seperti:
Untuk anak yang lebih kecil, jadwal juga dapat dibuat menggunakan gambar atau ilustrasi agar lebih mudah dipahami.
Yang terpenting, jadwal tersebut sebaiknya dibuat secara realistis dan disesuaikan dengan usia serta aktivitas anak.
Salah satu kesalahan yang dapat terjadi ketika orang tua ingin membantu adalah terlalu cepat memberikan jawaban.
Jika anak mengalami kesulitan mengerjakan soal, orang tua dapat memberikan petunjuk atau mengajukan pertanyaan yang membantu anak menemukan jawabannya sendiri.
Misalnya, ketika anak kesulitan mengerjakan soal matematika, orang tua dapat bertanya:
“Menurut kamu, informasi apa yang sudah diketahui dari soal ini?”
atau
“Coba lihat lagi contoh yang diberikan guru. Bagian mana yang bisa kamu gunakan?”
Cara tersebut membantu anak belajar mencari solusi tanpa membuatnya merasa ditinggalkan ketika menghadapi kesulitan.
Memberikan pilihan sederhana dapat membantu anak belajar mengambil keputusan.
Misalnya:
“Kamu mau mengerjakan tugas Bahasa Inggris dulu atau Matematika dulu?”
Kedua pilihan tersebut tetap mengarah pada kewajiban yang harus diselesaikan, tetapi anak memiliki kesempatan menentukan urutannya.
Orang tua juga dapat mengajak anak menentukan waktu mulai belajar. Misalnya, apakah anak ingin mulai pukul 16.00 atau 16.30.
Dengan cara ini, anak secara perlahan belajar bahwa dirinya juga memiliki peran dalam mengatur tanggung jawab.
Mengingatkan anak sesekali tentu wajar, terutama jika anak masih dalam tahap belajar membangun kebiasaan. Namun, jika orang tua selalu mengingatkan setiap langkah, anak dapat terbiasa bergantung pada pengingat tersebut.
Daripada mengatakan:
“Sudah mengerjakan PR belum?”
berulang kali, orang tua dapat membuat sistem yang membantu anak mengingat tanggung jawabnya sendiri.
Contohnya, gunakan checklist sederhana:
Checklist Tugas Hari Ini
☐ Cek tugas dari sekolah
☐ Mengerjakan PR Matematika
☐ Membaca materi Bahasa Indonesia
☐ Memasukkan buku ke dalam tas
☐ Menyiapkan seragam untuk besok
Anak dapat mencentang setiap tugas yang sudah diselesaikan. Aktivitas sederhana ini dapat membantu anak belajar memantau tanggung jawabnya sendiri.
Ketika anak berhasil menyelesaikan tugas, berikan apresiasi terhadap usaha dan tanggung jawabnya.
Apresiasi tidak harus berupa hadiah. Kalimat sederhana seperti:
“Kamu sudah berusaha menyelesaikannya sendiri. Mama bangga.”
atau
“Tadi kamu sempat kesulitan, tetapi kamu tetap mencoba. Bagus sekali.”
dapat membantu anak merasa bahwa usahanya dihargai.
Namun, orang tua sebaiknya tidak hanya memberikan pujian ketika hasil tugasnya sempurna. Mengapresiasi proses, usaha, dan perkembangan anak dapat membantu membangun pola pikir bahwa belajar merupakan proses.
Belajar bertanggung jawab juga berarti memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Jika anak lupa mengerjakan tugas, orang tua tidak selalu perlu langsung menyelesaikan masalah tersebut untuknya. Berikan kesempatan kepada anak untuk menghadapi konsekuensi yang wajar dan aman dari pilihannya.
Misalnya, jika anak lupa memasukkan buku tugas ke dalam tas, orang tua dapat membicarakan apa yang terjadi dan menanyakan:
“Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan supaya besok tidak lupa lagi?”
Dari situ, anak dapat belajar mencari solusi, seperti membuat checklist atau menyiapkan tas pada malam hari.
Konsekuensi sebaiknya diberikan sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai bentuk hukuman yang mempermalukan atau menakut-nakuti anak.
Dalam mengajarkan tanggung jawab, ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya diperhatikan agar pendampingan tidak justru membuat anak semakin bergantung.
Membantu menjelaskan soal berbeda dengan memberikan jawaban atau mengerjakan seluruh tugas. Jika orang tua terlalu sering mengambil alih, anak kehilangan kesempatan untuk berlatih menyelesaikan masalah sendiri.
Setiap anak memiliki perkembangan dan kebutuhan yang berbeda. Kalimat seperti “Temanmu saja bisa, kenapa kamu tidak?” dapat membuat anak merasa tidak mampu.
Lebih baik fokus pada perkembangan anak dibandingkan membandingkannya dengan orang lain.
Tanggung jawab sebaiknya dibangun melalui kebiasaan, pemahaman, dan kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Hukuman yang terus-menerus tidak selalu membantu anak memahami alasan mengapa ia perlu bertanggung jawab.
Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Anak mungkin masih lupa mengerjakan tugas, salah memahami instruksi, atau membutuhkan bantuan ketika menghadapi materi yang sulit.
Orang tua dapat membantu anak memperbaiki kesalahan tersebut tanpa membuatnya merasa bahwa kesalahan adalah sesuatu yang memalukan.
Jika anak masih sering menunda tugas atau membutuhkan banyak bantuan, orang tua tidak perlu langsung menganggap anak malas. Cobalah mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu.
Beberapa kemungkinan yang dapat diperhatikan antara lain:
Anak belum memahami instruksi tugas.
Tugas terasa terlalu sulit.
Anak belum mampu mengatur waktu.
Anak mudah terdistraksi ketika belajar.
Anak merasa bosan dengan aktivitas belajar.
Anak membutuhkan pendampingan untuk memahami materi tertentu.
Dengan mengetahui penyebabnya, orang tua dapat menentukan bentuk bantuan yang lebih sesuai.
Misalnya, jika anak kesulitan karena belum memahami materi, pendampingan belajar tambahan dapat membantu anak memahami konsep tersebut. Sementara itu, jika masalahnya adalah pengaturan waktu, orang tua dapat lebih fokus membangun rutinitas belajar.
Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak belajar bertanggung jawab, tetapi proses tersebut sebaiknya dilakukan secara bertahap.
Pada awalnya, anak mungkin masih membutuhkan banyak arahan. Seiring bertambahnya kemampuan dan pengalaman, bantuan tersebut dapat dikurangi sedikit demi sedikit.
Prinsip sederhananya adalah membantu anak melakukan sesuatu sampai ia mampu melakukannya sendiri, bukan melakukan semuanya untuk anak.
Misalnya, orang tua dapat membantu membuat jadwal belajar pada awalnya. Setelah anak terbiasa, biarkan ia mulai menentukan jadwalnya sendiri dengan tetap mendapatkan pengawasan seperlunya.
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya belajar menyelesaikan tugas sekolah, tetapi juga belajar mengelola tanggung jawabnya secara mandiri.
Setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Ada anak yang dapat memahami materi melalui membaca, sementara anak lainnya mungkin membutuhkan penjelasan langsung, latihan tambahan, atau aktivitas belajar yang lebih interaktif.
Jika anak membutuhkan pendampingan dalam memahami materi sekolah, Fun Teacher Private dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung proses belajarnya. Melalui layanan les privat, anak dapat memperoleh pendampingan belajar yang lebih personal sesuai dengan jenjang pendidikan dan kebutuhan belajarnya.
Pendampingan tersebut bukan berarti mengambil alih tugas anak. Justru, guru privat dapat membantu anak memahami materi, memberikan arahan ketika mengalami kesulitan, dan secara bertahap mendorong anak agar semakin percaya diri dalam menyelesaikan tugasnya sendiri.